Empat Sekawan yang Gak Pernah Serius ( Chapter 1 ) Empat Sekawan yang Gak Pernah Serius ( Chapter 2 ) Tiga Pesulap ( Chapter 1 ) Tiga Pesulap ( Chapter 2 ) Tiga Pesulap ( Chapter 3 )
Ayam Homo yang Kesepuluh Ayam Terakhir Belajar Motivasi dari Dunia Lain Eh, Keceplosan! Happy Ending....... Humor ala Bajuri dan Oneng Humor Kamasutra ( Chapter 4 ) Humor Kamasutra ( Chapter 3 ) Humor Kamasutra ( Chapter 2 ) Humor Kamasutra ( Chapter 1 ) Papa dan Anak Drakula Surat dari Si Penjual Buah yang Patah Hati Teka-Teki Asal Gobleg Beserta Jawabannya Ternyata, Dia Bohong Pak Hakim! Tiga Penjual Buah yang Kena Hukum Video Lucu Sepuluh Idiot
Bikin Banner Gratisan yang Bisa di Klik Maraknya Bisnis Online Serba-Serbi Internet ( Chapter 1) Tips Untuk Menarik Pengunjung ke Blog Kita
Air Putih Segar dan Sehat.... Deteksi Beragam Penyakit Dengan Kuku Dua Puluh Fakta Unik Tentang Tubuh Kita Dua Puluh Lima Cara Alami Mencegah Flu da Pilek Enam Makanan Anti Kanker Payudara Fakta Tentang Nyamuk Inilah Manfaat dari Mandi... Mendengkur Alias Ngorok Obesitas Pada Anak Sepuluh Kebiasaan yang Dapat Merusak Otak Penyebab Mata Lelah Sepuluh Makanan Penyebab Bau Badan dan Bau Mulut Sepuluh Penyakit yang Memalukan Ternyata Pete Berkhasiat Juga.......... Waspada Mikro Penis Pada Anak Tujuh Metode Memasak Paling Sehat
Asal Mula Nama Tempat di Jakarta Foto-foto Kerangka Manusia Raksasa Nostalgia Jakarta Tempo Doeloe ( Chapter 1 ) Nostalgia Jakarta Tempo Doeloe ( Chapter 2 ) Produk Lawas Yang Ada Sampai Sekarang
Burungku di Sandera Istriku Pagelaran Wayang Kulit di alam Siluman ( Chapter 1 ) Pagelaran Wayang Kulit di alam Siluman ( Chapter 2 ) Video Penampakan Makhluk Halus di Acara Dunia Lain
Berfikirlah Positip.... Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kado Kotak Kosong Lima Kiat Sukses Seorang Pegawai Menjadi Kaya Nasehat Untuk Ayah dan Ibu Semangkuk Bakmi Panas Sepuluh Hal yang Tidak Bisa Dibeli Oleh Uang Sepuluh Resep Sukses Bangsa Jepang Tips Cara Untuk Mengatasi Tekanan Kerja Tujuh Keajaiban Dunia
Derby Della Capitalle Fakta dan Data Seorang Francesco Totti Sepuluh Pemain Sepak Bola Nasional Dengan Gaji Tertinggi Sepuluh Pemain Sepak Bola Mancanegara Dengan Gaji Tertinggi
Aplikasi Nyata Setelah Ramadhan Delapan Jenis Cinta Dialog Nabi Muhammad SAW dengan Iblis Laknatullah Fakta Menarik Berbagai Macam Warna Yang Dihasilkan Oleh Api Kiat Sehat Ala Rasulullah SAW Sedekah Kepada Orang Malas Sembilan Ibadah Sunah Rasulullah Senyuman Hadiah Paling Berharga Untuk Apa Kalau Terminalnya Neraka
Falsafah Lima Jari Foto-Foto Liger ( Lion Tiger ) Frank Dux Versus Chong Lie Jawaban Tentang Video Malaikat Turun di Atas Ka'bah Mekah Kickboxer Lima Film Nasional Yang Lagi Diputar Lima Film Van Damme Yang Paling Laris Mengenal Tokoh Dunia Pewayangan Sepuluh Buah Paling Lezat di dunia, Menurut Lidah Orang Bule The Smurfs...Film Animasi Keluarga 3D Yang Keren Abis
5 Hal Yang Membuat Waktu Terbuang dan Cara mengatasinya Empat Cara Kreatif Agar Tetap Romantis Sepuluh Cara Alami Tingkatkan Energi Sepuluh Hal Yang Wanita Inginkan Tips Membina Hubungan Baik Dengan Atasan Tips Menghadapi Cewek Galak tips Menghilangkan Bau Busuk Sepatu Tips Menyampaikan Pesan dan Produk Lewat Presentasi

Daftar Isi Blog

Memuat...

Monday, September 26, 2011

Pagelaran Wayang Kulit di Alam Siluman (Chapter 1)

Kisah ini tentunya akan selalu terkenang dan tak pernah kulupakan sepanjang hidupku. Sebut saja namaku Pak Ronggo, aku adalah seorang yang memiliki profesi sebagai pendalang wayang kulit. Wayang merupakan hiburan tradisional bagi masyarakat Jawa yang sangat digemari. Sebagai pendalang tentunya menjadi kebanggaan dan keuntungan tersendiri bagiku, aku sangat terkenal di kampungku, bahkan kampung-kampung tetanggaku. Setiap ada acara hajatan pernikahan ataupun sunatan, mereka selalu memanggilku untuk menghibur tamu-tamu yang datang melalui pertunjukan wayang kulitku. Aku memang tidak memasang tarif yang mahal untuk pertunjukanku, bagiku dapat menghibur tetangga-tetanggaku sudah merupakan kepuasan tersendiri bagiku. Atas dasar itu pulalah aku semakin terkenal dan pertunjukanku tambah disukai semua orang bahkan sampai di kampung-kampung seberang.

Suatu hari datanglah dua orang tamu ke rumahku. Terus terang aku belum pernah melihat mereka sebelumnya. Wajah mereka begitu asing bagiku, mungkin mereka datang dari kampung seberang , pikirku. Setelah kupersilahkan masuk dan kujamu mereka ala kadarnya, kutanyakan maksud dan tujuan mereka datang ke rumahku. "kami adalah utusan dari kampung seberang, dibalik bukit itu, dan maksud kami datang ke sini adalah sesuai perintah dari  lurah kami, Ki Suryo Menggolo untuk meminta kepada Ki Ronggo agar dapat memainkan wayang di acara pernikahan putri lurah kami itu." ujar salah seorang dari mereka, yang ternyata bernama Pak Kusnan. " Baik, kira-kira hari apa, saya diminta datang ke rumah Ki Lurah anda itu?" tanyaku memastikan. " Minggu depan, tepatnya Kamis malam Jumat." sambung orang yang satunya lagi, Pak Joko namanya. Aku terdiam sejenak, sebenarnya aku ingin menolak tawaran itu, bukan karena apa-apa, aku memang belum pernah memainkan wayang di malam jumat, lebih-lebih setelah kulirik kalender yang tergantung di tembok rumahku ternyata malam jumat itu adalah malam jumat kliwon. "Ki Ronggo tidak perlu takut, semua keperluan aki akan kami urus, kami akan jemput aki dan para nayaga ( tukang tabuh gamelan), dan Ki Lurah Suryo akan membayar Ki Ronggo dengan bayaran yang besar, karena Ki Lurah Suryo adalah orang paling terkaya di kampung kami, bagaimana ki Ronggo?" tanya Pak Kusnan seolah-olah tahu apa yang kupikirkan. "Iya ki, nama Ki Ronggo sudah terkenal di kampung kami, dan Ki Suryo sudah terlanjur mengumbar janji dapat menampilkan wayang Ki Ronggo di acara pernikahan putrinya, tolong jangan kecewakan Ki Suryo!" sambung Pak Joko. Aku jadi tidak enak dan seolah-olah mereka menyirepku untuk tidak dapat berkata-kata satu kata pun. Selanjutnya mereka mengeluarkan amplop coklat tebal. Setelah dibuka ternyata isinya adalah uang lembaran ratusan ribu banyak sekali dan belum pernah aku melihat uang sebanyak itu. "Ini, ambillah ki, anggap ini sebagai tanda jadi, nanti akan ada lagi sebagai bayaran utama setelah aki selesai menghibur kami." ujar Pak Kusnan sambil menyodorkan amplop uang itu dan menggenggamkannya langsung ke tanganku. Lidahku kelu, tanganku gemetaran menerima amplop itu. Seumur hidupku aku belum pernah menerima uang sebanyak ini, kuperkirakan jumlahnya sekitar dua puluh jutaan rupiah. Dan ini katanya baru uang tanda jadi, masih ada lagi yang akan dibayarkan oleh Ki Lurah Suryo. Gila! padahal untuk pertunjukan semalam suntuk di kampungku ini, aku cuma mematok tarif tak lebih dari dua juta rupiah, dan itupun harus kubagi rata kepada tujuh orang anggota nayagaku. "Bagaimana ki, aki bersedia kan?" sambung Pak Joko membuyarkan lamunanku. "Ba..baiklah..pak, saya bersedia...." jawabku terbata-bata. Mendengar jawabanku, kedua orang itu tersenyum puas, lantas mereka pun bermaksud meninggalkan rumahku. " Baik Ki, kami permisi, nanti kamis sore sekitar pukul tiga sore kami akan jemput aki dan para nayaga, Oh..ya satu lagi ki, tolong nantinya pada saat pertunjukan, sesuai permintaan Ki Lurah Suryo, jangan sekali-kali aki keluarkan tokoh wayang Semar, karena Ki Suryo tak suka akan tokoh wayang itu." ujar Pak Kusnan. Aneh pikirku, baru kali ini aku mendapat permintaan khusus, ternyata ada juga orang yang tidak suka dengan karakter Semar, bukankah sosok Semar itu adalah sosok bijaksana? pembela kebenaran? adil dan welas asih? akh, masa bodo, itukan permintaan pelanggan, dan aku harus sebisa mungkin menurutinya, lagi pula tidak ada ruginya bagiku. " Baik pak, kami bersedia dan siap menghibur kampung bapak-bapak sekalian, sampaikan terima kasih dan salam saya kepada Ki Lurah Suryo." kataku. Kemudian kedua orang itu pun pulang.......

Tepat pada saat yang telah ditentukan, aku dan para kru nayagaku telah bersiap-siap. Dan ternyata mereka pun menepati janjinya. Sekitar pukul tiga sore Pak Kusnan terlihat datang dengan membawa sebuah mobil truk besar dan sebuah mobil mini van, tapi kini dia sendiri tidak bersama pak Joko. Barang -barang gamelan kami pun telah naik semua di atas truk, sedangkan kami naik mobil satunya lagi. Kami pun berangkat menuju kampung yang sampai saat ini pun belum kami ketahui namanya dan keberadaannya. Perjalanan pun dimulai, kami melewati jalan jalan sepi yang di samping kanan kirinya hutan dan bukit-bukit. Rasanya kami belum pernah sekalipun melewati jalan ini, jalan ini terasa asing bagi kami, tapi semua pertanyaan itu hanya dapat kami simpan dalam hati. Hari semakin gelap, kami semakin bingung dan tak tahu ada di mana kami, yang terlihat hanyalah gelap pekat dan bayangan pohon-pohon tinggi. Mobil terus berkelok-kelok, udara dingin mulai menembus kulit kami, suara jangkrik dan binatang malam semakin menambah mencekamnya suasana. Mobil truk yang satu lagi sudah tak terlihat, mungkin sudah jauh di depan kami. Kulirik Pak Kusnan di sampingku, ternyata dia telah tertidur pulas, kulihat ke belakang, ternyata para nayagaku pun telah tertidur semuanya. Tinggal aku dan pak sopir yang masih terjaga. "Masih jauh pak?" tanyaku  pada pak sopir. "Sebentar lagi, di balik pohon itu!'' jawabnya sambil menunjuk lurus ke depan. Ada yang aneh kurasakan, tempat ini belum pernah aku kenal, padahal menurut perkiraanku, tempat ini tidak jauh-jauh amat dari kampungku. Tapi kurasakan sudah hampir tiga jam lebih aku berada dalam minivan ini. Dan yang lebih mengherankan aku, tidak ada tanda-tanda kami akan memasuki sebuah kampung, jalanan tetap saja masih sunyi dan pekat. Mobil terus melaju dingin, di depan kulihat sebatang pohon beringin tua berdiri kokoh di sisi kiri jalan, sangat angker suasana saat itu, ranting-rantinya berjutai ke bawah seperti rambut sesosok mahluk yang sangat misterius. Tiba-tiba hawa dingin menerpa kami semua tatkala melewati pohon tersebut, dan bersamaan dengan itu semua menjadi gelap, pekat lampu mobil pun mati, suara mesin tak terdengar lagi, bahkan karena gelapnya aku sendiri tidak dapat melihat teman-temanku sendiri yang telah terlelap dari tadi, ada apa ini??? di mana aku sebenarnya?? batinku dalam hati. "Kita sudah sampai ki......." tiba -tiba terdengar suara seseorang dari belakangku, bersamaan dengan itu, seketika suasana menjadi terang benderang, kini terlihat mobil kami sudah parkir di depan sebuah rumah besar mirip pendopo. Lampu-lampu listrik sangat banyak dan terang, benar-benar meriah, dan saat itu banyak sekali orang-orang berlalu lalang. Di tambah dengan para pedagang bertaburan di sekitar rumah besar itu, seolah menambah meriahnya suasana. Aku masih terdiam dan terpaku, kulirik jam di tanganku ternyata waktu masih menunjukkan pukul lima sore, gila...aneh sekali, padahal kami telah menempuh perjalanan ini sekurang-kurangnya empat jam, seharusnya menurutku ini sudah pukul tujuh malam...." Mari Ki Ronggo, kita turun , nampaknya Ki Lurah Suryo telah menunggu kita semua." terdengar suara di belakangku yang ternyata adalah pak Kusnan.

Bersambung.....ke Chapter 2

0 comments:

Post a Comment

Silahkan tulis komentar anda mengenai cerita ini, komentar anda sangat berguna untuk kemajuan blog ini..

 
Kumpulan Cerita Fiksi - Berbagi dan Memberi Informasi Copyright © 2011 - All right reserved | Blog Owner by Fachruddin Zaenal Saleh